
Ayu Wulandari, M.A., mahasiswa PhD yang juga menjadi peneliti dalam New Futures for Indonesian Objects, melalui proses penting dalam studinya dengan menyelenggarakan seminar proposal pada 2 Desember 2025. Tahap ini bersifat krusial sekaligus wajib bagi setiap mahasiswa doktoral di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Dalam seminar ini, mahasiswa diwajibkan mempresentasikan proposal penelitian mereka, termasuk topik spesifik yang akan diteliti, sumber-sumber potensial, kerangka metodologis, serta rencana struktur disertasi.
Dalam presentasinya, Ayu memaparkan rencananya untuk mendekolonisasi objek-objek jarahan dari Lombok dengan menelaah proses produksi memori. Ia mengajukan pertanyaan kritis, seperti apakah pemindahan objek-objek tersebut ke Batavia pada tahun 1894 dan kemudian ke Belanda sejak 1896 juga menandai terputusnya hubungan antara komunitas lokal dan objek-objek tersebut? Dengan menempatkan memori sebagai fokus utama, ia berargumen bahwa memori merupakan dimensi penting dalam pengetahuan komunitas, yang selama ini termarginalkan dalam diskursus yang lebih luas mengenai objek-objek rampasan dari Lombok. Melalui pendekatan ini, penelitiannya berupaya menghadirkan suara-suara subaltern serta berkontribusi pada keadilan epistemik.
Dalam seminar tersebut, Ayu menerima berbagai kritik, pertanyaan, dan saran yang sangat berharga dari para pembahas. Dr. Yulianti, misalnya, menekankan pentingnya mempertimbangkan keberagaman komunitas di Lombok dalam meneliti memori. Ia juga menyarankan agar Ayu secara jelas menentukan objek mana dalam koleksi yang akan menjadi fokus utama, mengingat koleksi jarahan tersebut terdiri atas ratusan benda. Pembahas lainnya, Dr. Wildan Sena Utama, mendorong ketelitian yang lebih besar dalam penulisan untuk menghindari kesalahan teknis. Secara substantif, ia menyarankan agar Ayu memperdalam kajian mengenai simbol-simbol kolonial yang berkaitan dengan Perang Lombok dan objek-objek rampasan, seperti Monumen Lombok, yang kemungkinan memuat tanda-tanda spesifik serta makna berlapis yang terkait dengan perang dan objek-objek tersebut. Baik Dr. Yulianti maupun Dr. Wildan Sena Utama juga menyoroti pentingnya periodisasi, serta menyarankan agar disertasi diorganisasikan secara tematik guna memperkuat keseluruhan proposal.

Seminar ini juga melibatkan para mahasiswa sebagai pembahas, yang memberikan banyak kontribusi yang mendalam. Diantara saran yang diajukan adalah pentingnya melibatkan komunitas Muslim kontemporer di Lombok melalui metode sejarah lisan. Mereka juga mendorong Ayu untuk menelusuri folklor lokal, karena pengetahuan komunitas mengenai perang dan objek-objek jarahan kemungkinan besar ditransmisikan secara lisan dari generasi ke generasi.
Secara keseluruhan, berbagai masukan yang dibagikan dalam seminar tersebut sangat berharga bagi pengembangan dan penyempurnaan proposal penelitian. Dengan masukan yang sangat dan kritis yang diterimanya, maka dapat menjadi bekal bagi Ayu agar lebih siap untuk mempertajam kerangka analisisnya serta memperkuat arah disertasinya.