Universitas Gadjah Mada EXPLORING NEW FUTURES FOR INDONESIAN OBJECTS
Dismantling Colonial Knowledge Production
and Recovering Lost Histories and Memories
  • Tentang
  • Tim
  • Artikel
  • Agenda
  • Buletin
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
  • Beranda
  • Artikel

Mengurai Perdebatan tentang Pengembalian Objek-objek Kultural Indonesia: Perspektif dari Sadiah Boonstra

  • Artikel
  • 24 April 2026, 08.50
  • Oleh : New Futures For Indonesian Objects

Wacana yang terus berkembang mengenai pengembalian objek kultural telah menjadi perhatian penting di Indonesia, terutama setelah beberapa gelombang repatriasi terbaru dari Belanda. Di tengah dinamika diskusi dan meningkatnya rasa ingin tahu ini, kontribusi akademik terbaru dari peneliti New Futures from Indonesian Objects, Sadiah Boonstra, menawarkan intervensi penting dalam memahami bagaimana perdebatan tentang objek kultural Indonesia dibingkai, dinegosiasikan, dan dibayangkan ulang dalam kaitannya dengan keterjeratan sejarah kolonial. Bab bukunya berjudul “Beyond the Point of No Return: The Re-emergence of Indonesian Debates About Concepts of the Return of Cultural Objects”dimuat dalam volume berjudul Rethinking Histories of Indonesia: Experiencing, Resisting and Renegotiating Coloniality, yang disunting oleh Sadiah Boonstra, Bronwyn Anne Beech Jones, Katharine McGregor, Ken M.P. Setiawan, dan Abdul Wahid.

Koleksi Objek-objek Indonesia
Pada dasarnya, tulisan Sadiah Boonstra menelaah bagaimana persoalan kesetaraan dan otoritas kultural membentuk perdebatan mengenai pengembalian objek kultural Indonesia dari Belanda, sebagai bekas penguasa kolonial. Sadiah Boonstra juga memberikan uraian rinci mengenai bagaimana objek-objek tersebut dapat tersimpan di Belanda. Bab ini menunjukkan bahwa ribuan objek diambil dari Kepulauan Indonesia melalui beragam proses, termasuk ekspedisi militer, misi ilmiah, hingga praktik pemberian hadiah.

Objek-objek tersebut juga sangat beragam, mulai dari artefak religius dan spiritual hingga karya seni dan perhiasan. Namun demikian, penting untuk disadari bahwa proses perolehannya berlangsung dalam relasi kekuasaan yang sangat timpang. Kondisi ini memungkinkan pihak Belanda untuk mengklaim “kepemilikan resmi” atas objek-objek tersebut, bahkan dalam kasus di mana objek diperoleh melalui cara-cara koersif atau tidak sah, termasuk penjarahan yang juga terjadi di Lombok pada abad ke-19.

Negosiasi dan Perdebatan Pengembalian Objek Kultural
Sadiah Boonstra berargumen bahwa pengembalian objek kultural sama sekali bukan tindakan yang netral. Sebaliknya, ia sangat terkait dengan persoalan keadilan historis, otoritas epistemik, dan kedaulatan budaya. Oleh karena itu, bab ini tidak memandang pengembalian sebagai prosedur hukum atau administratif yang sederhana, melainkan sebagai rangkaian negosiasi berlapis yang membentuk makna “pengembalian” baik dalam praktik maupun dalam prinsip. Yang tidak kalah penting, Sadiah Boonstra menegaskan bahwa perdebatan mengenai pengembalian objek kultural telah mulai dirumuskan oleh pihak Indonesia sejak masa kolonial.

Diskusi ini menjadi semakin terstruktur dan tegas setelah kemerdekaan, serta mencapai momentum penting pada Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Ia mencatat bahwa rancangan “Draft of Cultural Agreement” secara eksplisit memuat permintaan pengembalian objek kultural yang diambil oleh otoritas kolonial dari Kepulauan Indonesia. Ali Sastroamidjojo kemudian menempatkan restitusi sebagai salah satu wujud utama kerja sama kebudayaan antara Indonesia dan Belanda, dengan menekankan bahwa kerja sama tersebut harus didasarkan pada prinsip kesetaraan dan kesukarelaan. Revisi lanjutan terhadap rancangan tersebut memperjelas bahwa restitusi seharusnya berlaku secara khusus bagi objek yang diperoleh melalui cara-cara yang tidak tepat atau tidak sah. Dengan kata lain, objek yang dijarah atau diambil tanpa persetujuan menjadi layak untuk dikembalikan. Posisi ini dengan jelas menegaskan status Indonesia sebagai negara-bangsa yang baru berdaulat, yang menolak kelanjutan intervensi kolonial dalam tata kelola dan pengelolaan objek kulturalnya. Hal ini juga dipengaruhi oleh konteks politik yang lebih luas, dimana meningkatnya nasionalisme mendorong Indonesia untuk mengurangi dan pada akhirnya berupaya untuk memutus pengaruh kolonial.

Sayangnya, rancangan akhir “Draft of Cultural Agreement” tersebut tidak pernah diratifikasi, yang mencerminkan perbedaan pandangan yang semakin tajam antara Indonesia dan Belanda terkait pengembalian objek kultural. Namun demikian, Sadiah Boonstra tidak memandang rancangan tersebut sebagai produk yang gagal. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa rancangan tersebut meninggalkan warisan penting bagi negosiasi dan perdebatan selanjutnya mengenai pengembalian objek kultural. Pemerintah Indonesia terus mengupayakan restitusi melalui beberapa putaran perundingan dengan Belanda, meskipun upaya tersebut belum membuahkan hasil berarti hingga awal 1970-an. Perubahan signifikan terjadi melalui sebuah kesepakatan bersama yang disetujui pada tahun 1975, yang memberikan mandat bagi pengembalian sejumlah objek dan manuskrip ke Indonesia. Sebagai hasilnya, beberapa objek penting secara resmi dipulangkan antara tahun 1977 hingga 1978, termasuk objek yang berkaitan dengan Pangeran Diponegoro (1785-1855), arca Buddha Prajnaparamita dari abad ke-13, serta objek-objek yang dikenal sebagai Harta Karun Lombok.


Setelah dekade 1970-an, pengembalian objek kultural tidak lagi tampak sebagai agenda utama bagi Pemerintah Indonesia. Namun, sebagaimana dicatat oleh Sadiah Boonstra, restitusi kembali memperoleh momentum pada dekade 2010-an, terutama setelah pengembalian objek-objek yang berkaitan dengan Pangeran Diponegoro oleh keturunan Gubernur Jenderal Jean Chrétien Baud (1789-1859) kepada Museum Nasional Indonesia (MNI). Perkembangan ini kemudian diikuti oleh beberapa pengembalian lainnya, termasuk yang terkait dengan penutupan Museum Nusantara di Delft. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia dan Belanda juga telah membentuk komite restitusi, yang menghasilkan pemindahan 472 objek pada tahun 2023. Objek-objek tersebut meliputi 355 item dari koleksi Lombok, empat arca dari Candi Singosari abad ke-13, sebilah keris dari Klungkung, serta 132 karya yang dikenal sebagai koleksi Pita Maha.

Sebagai penutup, kontribusi akademik Sadiah Boonstra menawarkan refleksi kritis atas perubahan makna restitusi dari waktu ke waktu. Pada masa perundingan Konferensi Meja Bundar, objek kultural dipahami sebagai bagian dari proyek yang lebih luas dalam membangun kebudayaan Indonesia. Sebaliknya, pengembalian objek-objek tersebut pada akhir 1970-an dipahami dan dijalankan dalam kerangka politik identitas. Namun demikian, di luar tindakan pengembalian itu sendiri, pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana objek-objek tersebut dipahami dikemudian hari, baik dari segi makna maupun signifikansinya bagi komunitas lokal dan masyarakat luas di Indonesia. Hanya melalui pemaknaan semacam inilah objek-objek tersebut dapat diintegrasikan kembali secara bermakna ke dalam sistem pengetahuan Indonesia dan konteks budaya yang hidup.

Berita Terkait

Registrasi Seminar “Reclaiming Narratives” Telah Dibuka

Artikel Sabtu, 13 Juni 2026

Program New Futures for Indonesian Objects akan menyelenggarakan seminar musim panas pada 8-16 Juli 2026 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, serta di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Pertemuan Konsorsium 2025: Mengembangkan Program Baru dalam New Futures for Indonesian Objects

Artikel Jumat, 17 April 2026

Konsorsium New Futures for Indonesian Objects merupakan inisiatif kolaboratif internasional yang didedikasikan untuk meninjau ulang sejarah, makna, serta kemungkinan masa depan dari objek-objek kultural Indonesia, khususnya objek-objek jarahan yang berasal dari Pulau Lombok.

New Futures for Indonesian Objects Kini Hadir di Instagram

Artikel Sabtu, 14 Februari 2026

Dengan bangga, kami mengumumkan bahwa program penelitian Exploring New Futures for Indonesian Objects: Dismantling Colonial Knowledge Production and Recovering Lost Histories and Memories, kini telah hadir di Instagram.

Seminar Proposal Mahasiswa PhD dari Program New Futures for Indonesian Objects

Artikel Senin, 15 Desember 2025

Ayu Wulandari, M.A., mahasiswa PhD yang juga menjadi peneliti dalam New Futures for Indonesian Objects, melalui proses penting dalam studinya dengan menyelenggarakan seminar proposal pada 2 Desember 2025.

Media Sosial

pastfutureheritage.ugm_

📢 Meet the Speakers of “Reclaiming Narratives”! “ 📢 Meet the Speakers of “Reclaiming Narratives”!“Reclaiming Narratives: Recovering Histories and the South-South Approach to Dismantling Colonial Knowledge”We’re excited to introduce our speakers for the public seminar, bringing together critical perspectives on memory, restitution, and decolonial approaches across the Global South. Swipe left to meet the speakers!🗓 9 July 2026⏱️ 08.30–16.00 WIB📍 Room S709, Soegondo Building, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada⚠️ Registration is extended until 25 June 2026!Secure your seat now:🔗 bit.ly/reclaimingnarratives2026📱 Or scan the QR code on the last slideVisit our website:🌐 pastfutureheritage.fib.ugm.ac.id#NewFuturesForIndonesianObjects#LombokWar#DecolonizingLombokObjects#DecolonialFutures#SejarahUGM
📢 REGISTRATION DEADLINE EXTENDED!!! Public Semina 📢 REGISTRATION DEADLINE EXTENDED!!!Public Seminar“Reclaiming Narratives: Recovering Histories and the South-South Approach to Dismantling Colonial Knowledge”Hear from consortium members and invited speakers as they will explore topics ranging from memory production to the return of Lombok War booty and other cultural objects from Indonesia, Nigeria, and Sri Lanka.🗓 9 July 2026⏱️ 08.30-16.00 WIB📍 Room S709, Soegondo Building, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah MadaRegister now:🔗 bit.ly/reclaimingnarratives2026📱 Or scan the QR code on the last slide🌐 pastfutureheritage.fib.ugm.ac.id#NewFuturesForIndonesianObjects#LombokWar#DecolonizingLombokObjects#DecolonialFutures#SejarahUGM
📢 Join the Public Seminar by New Futures for Indon 📢 Join the Public Seminar by New Futures for Indonesian Objects!“Reclaiming Narratives: Recovering Histories and the South-South Approach to Dismantling Colonial Knowledge”Hear from consortium members and invited speakers as they will explore topics ranging from memory production to the return of Lombok War booty and other cultural objects from Indonesia, Nigeria, and Sri Lanka.🗓 9 July 2026⏱️ 08.30-16.00 WIB📍 Room S709, Soegondo Building, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah MadaRegister now:🔗 bit.ly/reclaimingnarratives2026📱 Or scan the QR code on the last slide🌐 pastfutureheritage.fib.ugm.ac.id#NewFuturesForIndonesianObjects#LombokWar#DecolonizingLombokObjects#DecolonialFutures#SejarahUGM
A recent publication by Aditya Bayu Perdana and Ah A recent publication by Aditya Bayu Perdana and Ahmad Sugeng revisits a painting looted from Cakranegara Palace in 1894, long believed to depict a Mataram prince. More than about one painting, the publication highlights a broader issue, challenging colonial frameworks that have shaped interpretations of looted objects.Swipe left to get more insight!Sources: Perdana, Aditya Bayu, and Ahmad Sugeng (2026), “Prince or Pembekel? The Man in the Painting Looted from Cakranegara, Lombok”, in Tijdschrift voor Geschiedenis, 139(1): pp. 4-26.Image Sources: Leiden University Library & Wereldmuseum🌐 pastfutureheritage.fib.ugm.ac.id#NewFuturesForIndonesianObjects#LombokWar#DecolonizingLombokObjects#DecolonialFutures#SejarahUGM
The return of Lombok objects was not a simple proc The return of Lombok objects was not a simple process. It required careful provenance research, tracing each object to determine what was looted, what was misplaced, and whether it truly originated from Lombok.Swipe left to learn more about the provenance research.Sources: (1)Colonial Collections Committee Recommendation, accessed via https://committee.kolonialecollecties.nl/documents/2023/05/12/indonesia.(2) Tom Quist, “War loot from Lombok (1894) in the collections of NMVW and the Wereldmuseum”, published as an appendix in Colonial Collections Committee Recommendation, accessed via https://committee.kolonialecollecties.nl/documents/2023/05/12/indonesia.#NewFuturesForIndonesianObjects#LombokWar #DecolonizingLombokObjects#DecolonialFutures#SejarahUGM
The return of Lombok objects was not a simple proc The return of Lombok objects was not a simple process. It required careful provenance research, tracing each object to determine what was looted, what was misplaced, and whether it truly originated from Lombok.Swipe left to learn more about the provenance research.Sources: (1)Colonial Collections Committee Recommendation, accessed via https://committee.kolonialecollecties.nl/documents/2023/05/12/indonesia.(2) Tom Quist, “War loot from Lombok (1894) in the collections of NMVW and the Wereldmuseum”, published as an appendix in Colonial Collections Committee Recommendation, accessed via https://committee.kolonialecollecties.nl/documents/2023/05/12/indonesia.#NewFuturesForIndonesianObjects#LombokWar #DecolonizingLombokObjects#DecolonialFutures#SejarahUGM
The return of Lombok objects was not a simple proc The return of Lombok objects was not a simple process. It required careful provenance research, tracing each object to determine what was looted, what was misplaced, and whether it truly originated from Lombok.Swipe left to learn more about the provenance research.Sources: (1) Colonial Collections Committee Recommendation, accessed via https://committee.kolonialecollecties.nl/documents/2023/05/12/indonesia.(2) Tom Quist, “War loot from Lombok (1894) in the collections of NMVW and the Wereldmuseum”, published as an appendix in Colonial Collections Committee Recommendation, accessed via https://committee.kolonialecollecties.nl/documents/2023/05/12/indonesia.#NewFuturesForIndonesianObjects#LombokWar #DecolonizingLombokObjects#DecolonialFutures#SejarahUGM
The terminology we use to called the cultural obje The terminology we use to called the cultural objects, historical events, and their return processes shapes the way we understand history itself. Through the Consortium Lab with Dr. Sadiah Boonstra (@sadiahcurates), “New Futures for Indonesian Objects” reflected on the meanings behind terms related to the war of 1894 in Lombok, the transfer of cultural objects, and also the objects itself. Swipe left for more insight!🌐 pastfutureheritage.fib.ugm.ac.idSources: Rassool, C., & Gibbon, V. E. (2023). "Restitution versus repatriation: Terminology and concepts matter". American Journal of Biological Anthropology, 184(1). Accessed via https://doi.org/10.1002/ajpa.24889. #NewFuturesForIndonesianObjects#LombokWar #DecolonizingLombokObjects#DecolonialFutures#SejarahUGM
"New Futures for Indonesian Objects" introduces th "New Futures for Indonesian Objects" introduces the Consortium Lab, a monthly discussion forum that creates space for dialogue, reflection, and knowledge exchange on cultural objects. Bringing together consortium members and invited speakers, the Consortium Lab explores diverse perspectives to better understand both the Lombok objects and other cultural objects.Stay tuned to get more information on our Consortium Lab!🌐 pastfutureheritage.fib.ugm.ac.idImage source: Research Documentation#NewFuturesForIndonesianObjects#LombokWar#DecolonizingLombokObjects#DecolonialFutures#SejarahUGM
The return of Indonesian cultural objects continue The return of Indonesian cultural objects continues to raise important questions about history, justice, and cultural meaning. Based on Dr. Sadiah Boonstra’s work, the return is not just about bringing objects back to Indonesia, but about understanding the long and complex process of debates and negotiations behind the transfer of the objects. Swipe left to gain insights from Dr. Sadiah Boonstra!🌐 pastfutureheritage.fib.ugm.ac.id#NewFuturesForIndonesianObjects#LombokWar#DecolonizingLombokObjects#DecolonialFutures#SejarahUGM
"New Futures for Indonesian Objects” is committed "New Futures for Indonesian Objects” is committed to fostering collaborative research that rethinks and decolonizes knowledge about Indonesian cultural objects. In 2025, the consortium held its annual meeting to reflect on the first year of collaboration and to plan future initiatives. From internal consortium labs to upcoming summer seminars, the programme continues to grow as a space for critical dialogue and shared learning.Swipe left to explore the key discussions and future programmes of the consortium!🌐 pastfutureheritage.fib.ugm.ac.idImage source: Research Documentation, Hizkirani Jatiningrum, S.IP & Ayu Wulandari, M.A.#NewFuturesForIndonesianObjects#LombokWar1894#DecolonizingLombokObjects#DecolonialFutures#SejarahUGM
“New Futures for Indonesian Objects" is committed “New Futures for Indonesian Objects" is committed to nurturing scholars dedicated to decolonizing knowledge about Indonesian objects. Our PhD researcher, Ayu Wulandari, M.A., follows this path by uncovering local knowledge and memories connected to the looted objects from Lombok.Swipe left to explore her ideas and the progress of her research!🌐 pastfutureheritage.fib.ugm.ac.idImage source: Personal and research documentation, Hizkirani Jatiningrum, S.IP & Ayu Wulandari, M.A.#NewFuturesForIndonesianObjects#LombokWar#DecolonizingLombokObjects#DecolonialFutures#SejarahUGM
Follow on Instagram

Artikel Terbaru

  • Registrasi Seminar “Reclaiming Narratives” Telah Dibuka
    Juni 13, 2026
  • Mengurai Perdebatan tentang Pengembalian Objek-objek Kultural Indonesia: Perspektif dari Sadiah Boonstra
    April 24, 2026
  • Pertemuan Konsorsium 2025: Mengembangkan Program Baru dalam New Futures for Indonesian Objects
    April 17, 2026
Universitas Gadjah Mada

EXPLORING NEW FUTURES FOR INDONESIAN OBJECTS
DISMANTLING COLONIAL KNOWLEDGE PRODUCTION AND RECOVERING LOST HISTORIES AND MEMORIES

Contact Uspastfutureheritage.fib.ugm@gmail.com

© 2025 New Futures for Indonesian Objects