Universitas Gadjah Mada NEW FUTURES FOR INDONESIAN OBJECTS
DEPARTEMEN SEJARAH
UNIVERSITAS GADJAH MADA
  • Tentang
  • Tim
  • Berita
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
  • Beranda
  • Berita

Kunjungan Lapangan ke Lombok: Mendengarkan Suara dan Aspirasi Lokal

  • Berita
  • 30 September 2025, 05.43
  • Oleh : New Futures For Indonesian Objects

Menyusul pelaksanaan program penelitian New Futures for Indonesian Objects telah berjalan, tim yang terdiri dari Dr. Sadiah Boonstra, Dr. Yulianti, Ayu Wulandari, dan Hizkirani Jatiningrum mengadakan perjalanan lapangan pertama mereka ke Pulau Lombok. Kunjungan awal ini menjadi langkah penting untuk mendasarkan visi program penelitian pada realitas, memori, dan harapan komunitas lokal yang merupakan komunitas asal dari objek-objek Cakranegara-Lombok, yang lebih dikenal dengan Harta Karun Lombok. Selama beberapa hari, para peneliti melakukan dialog intensif dengan anggota masyarakat, pemimpin lokal, dan pelaku warisan budaya. Percakapan ini bukan sekadar wawancara biasa, melainkan sesi mendengarkan secara seksama yang bertujuan menangkap beragam harapan, sudut pandang, cerita, dan kekhawatiran seputar warisan Cakranegara-Lombok serta Perang Lombok tahun 1894.

Diskusi dengan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat

Hari ke-1: Dialog dengan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat

Hari pertama kunjungan lapangan ke Lombok, 14 Agustus, dimulai dengan pertemuan resmi dan diskusi di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (Museum Negeri NTB). Sesi ini menghadirkan delegasi riset dari proyek New Futures for Indonesian Objects, bersama Kepala Museum, kurator, fasilitator budaya, dan staf museum. Diskusi berfokus pada peluang kolaborasi dalam penelitian sejarah terkait warisan budaya Lombok. Salah satu poin utama yang diangkat adalah pentingnya melibatkan komunitas lokal di Lombok, khususnya dalam interpretasi sejarah terhadap benda-benda yang sering disebut sebagai “Harta Karun Lombok”. Museum Negeri juga menawarkan akses ke koleksi manuskrip dan benda-benda sejarah yang diharapkan dapat mendukung tahap penelitian berikutnya. Pertemuan diakhiri dengan kesepakatan bersama untuk membangun kerja sama berkelanjutan, khususnya dalam pengumpulan pengetahuan berbasis komunitas, penelusuran informasi terkait objek, dan mendorong peran komunitas lokal dalam diskusi mengenai warisan budaya.

Hari ke-2: Dialog bersama FPNSBL

I Gusti Yoga Bagus Akasa

Tanggal 15 Agustus 2025 menjadi pertemuan yang bermakna dengan Forum Pelestarian Nilai Seni dan Budaya Lombok (FPNSBL), yang diwakili oleh I Gusti Bagus Yoga Akasa, yang dikenal luas dalam komunitas budaya sebagai Yudhi Buster. Bertempat dalam suasana informal namun fokus, pertemuan dibuka dengan presentasi dari FPNSBL yang memaparkan sejarah dan upaya organisasi dalam mengadvokasi isu warisan budaya. Selanjutnya berlangsung dialog yang hidup dan mendalam. Berbagai wawasan dibagikan, tidak hanya mengenai makna sejarah sejumlah situs dan benda, tetapi juga harapan komunitas dalam merebut kembali kendali atas cerita warisan mereka sendiri. Melalui dialog ini, sejumlah nama tokoh lokal dan lokasi bersejarah diidentifikasi sebagai titik masuk potensial untuk penyelidikan sejarah yang lebih mendalam mengenai objek-objek yang dijarah dari Istana Cakranegara. Lebih dari sekadar pertukaran informasi, pertemuan ini meletakkan dasar bagi kolaborasi di masa mendatang.

Hari 3: Mendengarkan Cerita: Dari Istana hingga Komunitas

Dialog dengan AA Made Jelantik Barayang Wangsa

Pada pagi hari tanggal 16 Agustus 2025, tim lapangan bertemu dengan Anak Agung Made Barayang Wangsa, keturunan keluarga kerajaan Mataram di Lombok. Dalam percakapan yang mendalam dan reflektif ini, sejarah dipahami bukan sebagai sekadar catatan, melainkan sebagai memori hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan Cakranegara-Lombok, menurutnya, pernah memiliki peran penting dalam kehidupan sosial, keagamaan, dan politik kerajaan, serta masih membawa makna emosional dalam garis keturunan keluarga. Anak Agung Made juga menyampaikan harapan yang banyak dirasakan: agar beberapa benda tersebut, meskipun tidak dikembalikan secara permanen, dapat suatu saat kembali ke rumah untuk sementara waktu. Pameran, menurutnya, dapat menjadi momen penyambungan kembali, memungkinkan masyarakat Lombok melihat dan merasakan warisan yang pernah hilang dari mereka. 

Diskusi dengan Pasir Putih

Tim kemudian bertemu dengan Komunitas Pasir Putih, sebuah kolektif seni dan budaya lokal yang aktif. Kelompok ini berbagi upaya kreatif mereka dalam merayakan dan melestarikan tradisi budaya Lombok, serta menunjukkan antusiasme untuk kolaborasi di masa depan, seperti merancang pameran bersama dan kegiatan yang dapat memperkuat dampak proyek dengan menggabungkan riset akademis dan seni komunitas. Pada malam harinya, fokus beralih ke komunitas yang lebih luas, ketika tim bertemu dengan Lombok Heritage Science and Society (LHSS). Melalui inisiatif edukasi yang berpusat pada Perang Lombok dan dampak sejarahnya, LHSS telah menemukan cara kreatif untuk melibatkan generasi muda. Pendekatan mereka, yang berbasis pada cerita komunitas dan kolaborasi lintas disiplin, menegaskan bahwa sejarah tidak hanya hidup dalam museum atau manuskrip. LHSS juga mengungkapkan harapan agar proyek New Futures for Indonesian Objects menghasilkan penelitian lebih mendalam yang mengungkap makna kaya yang tersimpan dalam warisan tersebut.

Para Peneliti dan LHSS

Hari ke-4: Menelusuri Jejak Sejarah Perang Lombok

Kunjungan Situs ke Ampenan

Pada tanggal 17 Agustus 2025, tim riset bersama anggota LHSS melakukan kunjungan lapangan yang mengikuti jejak sejarah Perang Lombok, dimulai dari tempat asalnya: Ampenan. Kawasan pesisir ini pernah menjadi titik pendaratan strategis pasukan kolonial Belanda, yang menjadi awal konflik yang melanda pulau ini. 

Ruins of Lombok Monument

Dari Ampenan, perjalanan bergerak lebih dalam ke lanskap Perang Lombok, seperti situs Makam van Ham dan reruntuhan Monumen Lombok. Salah satu tujuan utama selanjutnya adalah Puri Ukir Kawi, istana utama Kerajaan Mataram. Meskipun sebagian besar istana kini tinggal reruntuhan, dinding yang tersisa menjadi pengingat kuat akan kemegahannya di masa lalu. Situs ini juga menjadi sumber banyak pusaka berharga yang dijarah saat ekspedisi tahun 1894, menegaskan kerugian besar yang dialami pada masa itu. Kunjungan dilanjutkan ke lokasi penting lain seperti Seksari dan Pura Narmada. Seksari dikenal sebagai tempat perlawanan terakhir Mataram, sementara Pura Narmada tetap menjadi pusat suci untuk ritual dan otoritas spiritual. Secara keseluruhan, kunjungan ini memberikan gambaran bagaimana sejarah tetap hidup, tidak hanya lewat peninggalan fisik, tetapi juga melalui cerita dan memori yang melekat pada setiap lokasi. Observasi mendetail, dokumentasi foto, dan percakapan yang dikumpulkan selama perjalanan ini akan memperkaya proyek New Futures for Indonesian Objects.

Diskusi di area Narmada

Hari 5: Dialog yang Bermakna dengan Puri Pajang dan Majelis Adat Sasak

Dialog dengan pihak Puri Pajang

Pada tanggal 18 Agustus 2025, tim riset melanjutkan perjalanan dengan bertemu cabang lain dari keluarga kerajaan Mataram di Puri Pajang. Pertemuan ini bertujuan memperdalam pemahaman proyek dengan mendengarkan beragam cerita dan harapan yang berkembang dalam keluarga kerajaan besar ini. Percakapan mengungkap perspektif yang kaya dan berlapis mengenai warisan Cakranegara-Lombok dan Perang Lombok, menambah kedalaman penelitian yang sedang berlangsung.

Para Peneliti bersama Majelis Adat Sasak

Pada sore harinya, tim bertemu dengan Majelis Adat Sasak (MAS) di sekretariat mereka, melakukan dialog terbuka dan penuh penghormatan yang dipimpin oleh Ketua MAS, H. Lalu Sadjim Sastrawan, bersama anggota penting dewan lainnya. Diskusi berfokus pada bagaimana komunitas Sasak secara kolektif menafsirkan warisan tersebut, menegaskan bahwa banyak artefak bukan hanya milik kerajaan Bali di Mataram, tetapi juga termasuk pusaka suci, benda adat, dan kekayaan budaya yang berasal dari desa-desa Sasak. Oleh karena itu, mereka menyampaikan aspirasi kuat agar upaya repatriasi dan pelestarian menghormati hak historis dan budaya masyarakat Sasak terhadap benda-benda tersebut. Dialog ini memperluas pemahaman warisan Lombok sebagai warisan bersama.

Secara keseluruhan, hasil terpenting dari kerja lapangan pertama ini adalah kesempatan untuk benar-benar menyerap harapan dan kekhawatiran komunitas lokal terkait proyek ini. Keterlibatan awal tersebut membantu membangun kepercayaan dan meneguhkan semangat kolaborasi, sehingga riset dapat menghormati sekaligus menguatkan suara mereka yang paling dekat dengan warisan ini. Wawasan yang diperoleh dari kunjungan awal ini sudah mulai memengaruhi arah proyek, dengan menekankan pendekatan lintas disiplin yang menghargai baik catatan sejarah maupun memori yang tumbuh dikalangan masyarakat. Pemahaman ini memungkinkan proyek bergerak maju dengan sensitivitas dan kesadaran yang lebih besar, memastikan bahwa riset dan kegiatan berikutnya benar-benar mencerminkan suara serta pengalaman masyarakat yang terkiait dengan warisan ini.


Berita Terkait

New Futures for Indonesian Objects Kini Hadir di Instagram

Berita Sabtu, 14 Februari 2026

Dengan bangga, kami mengumumkan bahwa program penelitian Exploring New Futures for Indonesian Objects: Dismantling Colonial Knowledge Production and Recovering Lost Histories and Memories, kini telah hadir di Instagram.

Seminar Proposal Mahasiswa PhD dari Program New Futures for Indonesian Objects

Berita Senin, 15 Desember 2025

Ayu Wulandari, M.A., mahasiswa PhD yang juga menjadi peneliti dalam New Futures for Indonesian Objects, melalui proses penting dalam studinya dengan menyelenggarakan seminar proposal pada 2 Desember 2025.

Dekolonialisasi Warisan Budaya: Gagasan-Gagasan Penting dari Kuliah Dr. Boonstra tentang Repatriasi Objek Kultural

Berita Selasa, 25 Februari 2025

Sebagai bagian dari peluncuran New Futures for Indonesian Objects, proyek ini menggelar seminar di Departemen Sejarah, Universitas Gadjah Mada, yang menghadirkan kuliah umum oleh Dr. Sadiah Boonstra berjudul “Beyond the Point of No Return: The […].

Peluncuran Proyek Penelitian tentang Warisan Budaya yang Direpatriasi: Memikirkan Kembali “Harta Karun Lombok” dari Perspektif Dekolonial

Berita Selasa, 25 Februari 2025

Sebuah program penelitian baru tentang warisan budaya Indonesia yang telah direpatriasi, berjudul “Exploring New Futures for Indonesian Objects: Dismantling Colonial Knowledge Production and Recovering Lost Histories and Memories” secara resmi diluncurkan pada 25 Januari 2025.

Media Sosial

pastfutureheritage.ugm_

The last chapter from our fieldwork in Lombok brou The last chapter from our fieldwork in Lombok brought us closer to local voices, history, and the stories behind the so-called “Lombok Treasures.”Through conversations with the Mataram royal family and the Sasak Customary Council, we learned how these objects carry meaning, memory, and a sense of belonging across generations. Let’s swipe through the slides to explore the journey!🌐 pastfutureheritage.fib.ugm.ac.idImage source: Research Documentation, Hizkirani Jatiningrum, S.IP & Ayu Wulandari, M.A.#NewFuturesForIndonesianObjects#LombokWar#DecolonizingLombokObjects#DecolonialFutures#SejarahUGM
On 17 August 2025, the researcher of "New Futures On 17 August 2025, the researcher of "New Futures for Indonesian Objects", together with members of Lombok Heritage Science and Society (LHSS), embarked on a field visit following the Dutch footsteps in Lombok.From Ampenan, the site visit started with story of how Dutch colonial forces entered the Mataram area. Each site held important and meaningful stories about the war. The visit ended in Seksari, an area where members of the Mataram noble family committed puputan, a mass ritual suicide against the Dutch colonial forces.Swipe the slides for more information!🌐 pastfutureheritage.fib.ugm.ac.idImage source: Research Documentation, Hizkirani Jatiningrum, S.IP & Ayu Wulandari, M.A.#NewFuturesForIndonesianObjects#LombokWar#DecolonizingLombokObjects#DecolonialFutures#SejarahUGM
In August 2025, the Indonesian researcher of "New In August 2025, the Indonesian researcher of "New Futures for Indonesian Objects” visited Lombok. The journey was part of the project’s commitment to listen closely to local knowledge and aspirations related to looted objects from Lombok. We met with various institutions, communities, and descendants of the Mataram family. Swipe to see what we discovered there.🌐 pastfutureheritage.fib.ugm.ac.idImage source: Research Documentation, Hizkirani Jatiningrum, S.IP & Ayu Wulandari, M.A.#NewFuturesForIndonesianObjects#DecolonizingLombokObjects#DecolonialFutures#LombokWar#SejarahUGM
On 13 February 2025, the Department of History at On 13 February 2025, the Department of History at Universitas Gadjah Mada hosted a public lecture by Dr. Sadiah Boonstra on the repatriation of cultural objects to Indonesia. The discussion explored the processes and debates surrounding repatriation, emphasizing that these efforts should go hand in hand with decolonizing knowledge about the objects. The lecture also part of the launch of "New Futures for Indonesian Objects", our ongoing project that focus on the looted objects from Lombok. Swipe to the next slides to learn more about Dr. Sadiah’s lecture!🌐 pastfutureheritage.fib.ugm.ac.idImage source: UGM Department of History, Muhammad Faisal Adnan | Dr. Sadiah Boonstra's lecture materials#NewFuturesForIndonesianObjects#DecolonizingLombokObjects#DecolonialFutures#LombokWar#SejarahUGM
Behind “New Futures for Indonesian Objects” is a t Behind “New Futures for Indonesian Objects” is a team of passionate researchers, each bringing their expertise in history, heritage studies, memory, and media studies. Together, they will uncover stories, connecting with local communities, and rethinking the histories of objects looted from Lombok. The researchers in "New Futures for Indonesian Objects" also supported by consortium partners of Rijksmuseum and Wereldmuseum. The whole project supported by Dutch Research Agenda of NWA under research grant on collection with colonial context.Curious to know more about our researchers? Swipe left and visit our website to find out more!🌐 pastfutureheritage.fib.ugm.ac.idImage source: Research & Personal Documentation#NewFuturesForIndonesianObjects#LombokWar#DecolonizingLombokObjects#DecolonialFutures#SejarahUGM
“New Futures for Indonesian Objects” goes beyond t “New Futures for Indonesian Objects” goes beyond the archives, bringing looted objects from Cakranegara Palace in Lombok to life through dialogue, knowledge exchange, and reflection. Managed by consortium members from Universitas Gadjah Mada, the University of Amsterdam, Wereldmuseum, and Rijksmuseum, and supported by research funding from the Dutch Research Agenda of NWO, "New Futures for Indonesian Objects" will held several programmes such as seminars to research publications. Within the programmes, "New Futures for Indonesian Objects" will uncover histories, restore local memories, and invite everyone to rethink what the looted objects truly mean. Swipe to know our activities and outputs!🌐 pastfutureheritage.fib.ugm.ac.id🌐 nwo.nl/en/projects/nwa165922009Image source: Research & Personal Documentation#NewFuturesForIndonesianObjects#LombokWar#DecolonizingLombokObjects#DecolonialFutures#SejarahUGM
"New Futures for Indonesian Objects” officially be "New Futures for Indonesian Objects” officially began in January 2025 and will run for three years.The research programme is carried out within an international consortium, led by the Department of History, Universitas Gadjah Mada and the Amsterdam School for Heritage, Memory, and Material Culture, the University of Amsterdam, with the support of key partners: Ministry of Culture The Republic of Indonesia, the Wereldmuseum, and the Rijksmuseum. “New Futures for Indonesian Objects“ is sponsored by the Dutch Research Agenda of NWO, under research grant on collection of objects with colonial context.Swipe to the next slides to learn more about our consortium!🌐 pastfutureheritage.fib.ugm.ac.id🌐 nwo.nl/en/projects/nwa165922009Image source: Research Documentation, Museum van Wereldculturen#NewFuturesForIndonesianObjects#DecolonizingLombokObjects#DecolonialFutures#LombokWar#SejarahUGM
During the colonial era, hundreds of Indonesian cu During the colonial era, hundreds of Indonesian cultural objects were taken from their communities, stripped of context, and seen only through colonial eyes. Among these were the objects looted from Cakranegara Palace in 1894, which were removed from the lives and histories of the people who created and connected to them. “New Futures for Indonesian Objects” centres the Indonesian perspective, treating these looted objects as ‘historical sites’ to recover their stories, meanings, and memories. Guided  by decolonial thinking, the project challenges colonial frameworks, listening to local voices and narratives, and reimagines the ways we understand the looted objects.The project is part of Dutch Research Agenda (NWO) research on objects with colonial context, in a consortium with the University of Amsterdam, Wereldmuseum, Rijksmuseum, and Ministry of Culture the Republic of Indonesia. Follow us for more details.🌐 pastfutureheritage.fib.ugm.ac.id🌐 nwo.nl/en/projects/nwa165922009Image source: Museum van Wereldculturen#NewFuturesForIndonesianObjects#DecolonizingLombokObjects#DecolonialFutures#LombokWar#SejarahUGM
Follow on Instagram

Berita Terbaru

  • New Futures for Indonesian Objects Kini Hadir di Instagram
    Februari 14, 2026
  • Seminar Proposal Mahasiswa PhD dari Program New Futures for Indonesian Objects
    Desember 15, 2025
  • Kunjungan Lapangan ke Lombok: Mendengarkan Suara dan Aspirasi Lokal
    September 30, 2025
Universitas Gadjah Mada

NEW FUTURES FOR INDONESIAN OBJECTS
DEPARTEMEN SEJARAH
UNIVERSITAS GADJAH MADA

Contact Uspastfutureheritage.fib.ugm@gmail.com

© 2025 New Futures for Indonesian Objects